Sabtu, 29 Desember 2007

......

10 MITOS “NGAWUR” TENTANG GAME

Namanya mitos, ujung-ujngnya lebih dipercaya daripada kenyataannya. Tapi itu salah! So mitos-mitos ngawur apa sih yang ada hubungannya sama game, dan diakui sebagai kebenaran?

MITOS 1
Controller third-party kualitasnya enggak beda jauh dengan yang orisinil.
Salah Besar!


Dude, pendapat kalian dijamin salah besar! Dari pengalaman HG menggunakan barang as-pal (asli tapi palsu), mau kualitas terbaik, alias KW 1 pun, tetep saja berasa kurang dan malah cepet rusak. Jadi jangan heran kalo kemudian Sony, Microsoft, ataupun Nintendo emang melakukan paten khusus untuk controller bikinan mereka. Jadi biarpun harganya lebih mahal, tetapi dijamin lebih awet. Soalnya daripada beli imitasi tapi sering rusak, jatuhnya uang yang kalian keluarkan lebih banyak tuh.

MITOS 2
Memori makin besar, sistem game akan semakin baik.
Nggak selamanya benar.


Seorang mantan pegawai EA (Electronics Arts) pernah nyebutin, kala mereka membuat game untuk PS2 dan Xbox, mereka harus mereduksi ukuran texture yang mereka bikin. Intinya sih agar bisa tetap dimainkan di PS2 atau Xbox. “Karena DirectX milik Microsoft enggak seefisien OPEnGL. Sementara untuk PS2 walaupun memori yang ditawarkan sudah 32 MB, tetap saja masih kurang untuk menampilkan grafis yang bagus.

MITOS 3
Cheat khusus dibikin untuk kepuasan gamer.
Tentu tidak.


Cheat codes dibuat oleh pengembang game, tentu bukan untuk dikonsumsi oleh pengguna game-nya. Mereka membuat cheat codes untuk melakukan test pada game yang mereka kembangkan (apakah ada bugs atau tidak). Tentu kala melakukan pengetesan mereka membutuhkan jalan pintas yang membuat mereka enggak terlalu lama di bagian tersebut. That’s way mereka membuat cheat codes. Tetapi yang terjadi cheat codes yang dibuat, bocor ke pasaran, dan dijadikan “jalan pintas” gamer yang putus asa.

MITOS 4
Controller wireless enggak sebaik controller berkabel.
Salah.

Kenyataanya, kontroler nirkabel jaman sekarang punya kecepatan dan responsif yang sama dengan kontroler kabel. Tapi kalau gamer beranggapan menggunakan kontroler kabel ketinggalan jaman, itu salah besar. Menggunakan kontroler kabel atau bukan, hanya tergantung kepada selera masing-masing.

MITOS 5
Untuk mendapatkan hasil maksimal, butuh resolusi 1080p
Well, you don’t.


1080p adalah teknologi yang luar biasa, memungkinkan kita mendapatkan grafis optimal dari game atau film yang kita tonton atau mainkan. Tetapi belum semua device bisa menampilkan resolusi 1080p. Hanya PS3 yang bisa menampilkan resolusi ini. Dan enggak semua HDTV yang ada di pasaran bisa menampilkan 1080p, umumnya mentok di 720p atau 1080i. Dan sepertinya untuk beberapa tahun ini, dua resolusi tadi yang masih menjadi raja di bidang visual. Maklum untuk mendapatkan resolusi 1080p, teknologi yang ditawarkan lumayan mahal.


MITOS 6
1080i lebih baik tampilannya dibanding 720p.
Kecuali kalian melihat tampilan game kalian dalam keadaan “pause”.


Kenyataannya 1080i hanya bisa menampilkan 540 garis setiap 60 detik. Sementara 720p menampilkan full720 garis (kebayang doang gimana resolusi 1080p?). Khusus untuk gaming, 720p jauh lebih baik dibanding 1080i. Karena 720p mampu menampilkan gambar yang lebih halus, dan frame rate yang lebih sedikit.

MITOS 7
Xbox enggak bisa suport 1080p
Sekarang sudah bisa.

Thanks for the downloadable updates. 360 milik kalian kini bisa suport 1080p, hanya menggunakan kabel komponen dan kabel VGA. Toh resolusi itu bukanlah 108op full. Melainkan hanya over clock dari resolusi 720p. Caranya dengan mem-push analog scaler yang dimiliki Xbox 360. Dari kualiatas normal 720p sehingga mampu mengisi kulitas 1080p.

MITOS 8
TV Plasma lebih baik dibanding televisi CRT.
Sebuah kekeliruan.

Kekurangan televisi HD-TV CRT hanya satu: ukuran mereka yang besar. Padahal untuk kemampuan televisi CRT HD-TV jauh di atas televisi plasma HD-TV. Karena bagaimanapun juga, CRT mampu menghasilkan warna yang lebih solid dibanding Plasma dan LCD. Dan lagi harga jual televisi CRT HD-TV (atau yang sudah suport HD-TV) jauh lebih murah dibanding televisi Plasma atay LCD.

MITOS 9
Main FPS di PC adalah pilihan yang paling baik.
Nggak betul.

Untuk yang ini, sepertinya ada pada masalah selera, dan lagi-lagi banyak latihan. Karena banyak yang beranggapan untuk memainkan FPS di konsol nggak sesulit mengendalikannya via PC. Tanya deh kepada pemain Halo atau malah Gears of War-nya Xbox 360. Masalahnya kontroler Xbox 360 sudah membuktikan kemampuannya untuk memainkan FPS.

MITOS 10
Membali kabel HDMI ataupun Komponen, harus satu paket kala membeli konsol next-gen.
Mau aja ditipu toko.


Pastinya membeli sistem paket seperti itu membuat kalian kehilangan uang lebih banyak. Karena di pasaran kini sudah ada kabel HDMI atau kabel komponen dengan harga yang jauh lebih murah, dan tentunya kualitas yang jauh lebih bagus. Atau kalau kalian mau, kalian bisa mencarinya via eBay. Buat perbandingan kabel HDMI 12 kaki ditawarkan hanya 10 dollar. Satu set kabel komponen PS3 hanya 20 dollar. Tertarik?










Asyiknya, sambil kuliah kamu juga bisa bergabung dengan komunitas peminat game di sini. Namanya Binus Game Guild. “Mahasiwa Binus yang minat ke game itu ada dua golongan, pro-gaming (yang suka maen game) dan progaming (yang suka bikin game). Nah, Binus Game Guild kita bikin untuk komunitas mahasiswa yang suka bikin game,” ujar Heru Darmadi, lulusan Binus yang menggagas komunitas yang membernya terdiri dari mahasiswa, dosen, dan profesional game. Di sini anak-anak Binus bisa tukar pikiran langsung maupun lewat milis. Salah satu hasilnya, komunitas ini telah menghasilkan game MMO Geo Game.

Lalu apa syaratnya untuk kuliah di sini? Yang pertama, kamu harus lulusan SMA jurusan IPA. Kedua, lulus test dong! Nah peringkat kelulusan ini, menentukan berapa biaya pendidikan yang akan kamu keluarkan. Untuk tahun pertama antara Rp 15 juta – 20 juta. Lalu tahun berikutnya sekitar 3 jutaan setahun. Nah, kalau kamu siap dengan syarat itu, datanglah ke kampusnya di Jl. KH. Syahdan No.9 Jakarta Barat, atau bisa kunjungi situs webnya dulu di www.binus.ac.id.

DIGITAL STUDIO COLLEGE
Untuk menjadi seorang profesional di bidang game developer memang nggak mesti melalui pendidikan S1. Pendidikan yang setara D1 pun bisa menghasilkan seorang game developer. Ini sudah dibuktikan oleh Digital Studio College, sekolah komunikasi visual. Lembaga pendidikan ini juga mengelola Digital Studio Workshop. “Kalau Digital Studio Workshop untuk kursus singkat, sedang College untuk kuliah setara D1 selama 16 bulan,” jelas Romy Oktaviansyah, dosen Digital Studio College.

Ada 3 pilihan Program Studi di Digital Studio College, yaitu Digital Design (Graphic Design & Multimedia), Digital Animation (3d Animation & Visual Effects), dan Digital FilmMaking (Film & Video Production). Nah, Program Studi Digital Animation-lah yang menghasilkan pelaku-pelaku game developer. “Sejak berdiri tahun 2000, kuliah di sini sudah memasuki angkatan ke-8. Angkatan pertama dan kedua kebanyakan memasuki dunia film. Baru angkatan ke-3 banyak lulusan Digital Studio yang bekerja di dunia game developer,” tutur Romy, yang ketika awal Digital Studio College berdiri menjabat sebagai Program Head Digital Animation.



Lulusan program Digital Animation Digital Studio College kebanyakan bekerja di Matahari Studio. Kebetulan kalau Chaterina Dian (Ellen), Outsourcing Manager Matahari Studio adalah alumni Digital Studio College. “Jadi kalau mereka butuh tenaga, biasanya tinggal telepon. Atau kalau ada mahasiwa yang berbakat, udah langsung diincer. Dari Matahari Studio, biasanya mereka mendirikan perusahaan game developer sendiri,” cerita Romy lagi tentang almuni Digital Studio College.

Setiap angkatan Program Studi Digital Animation biasanya terdiri dari 40-50 mahasiswa. Tapi biasanya yang lulus hanya 20 mahasiwa dan yang minat ke game sekitar 4-5 orang, selebihnya ke film dan periklanan. Lulusannya boleh dibilang siap kerja. Bahkan pada angkatan ke-6, 120 persen lulusannya langsung bekerja. Kok 120 persen? Soalnya, yang nggak lulus aja udah diterima kerja. Biasalah, saat masih kuliah ikutan kerja freelance. Eh, lama-lama malah milih kerja ketimbang melanjutkan kuliah. Ini bukti larisnya lulusan Digital Studio College. “Ya memang di sini kita menyiapkan lulusan yang siap kerja. Jadi apa yang kita ajarkan, mesti dipratekan dulu di sini, ada simulasi kerjanya,” papar Romy.

Lalu mata kuliah apa aja yang diberikan di Program Studi Digital Animation? Beda dengan pendidikan untuk game develover lainnya, di sini memang lebih berat ke bidang art-nya. Untuk pendidikan dasarnya ada Creative Drawing, Design Fundamental, Animation Fundamental, Basic Video Production, Basic Photography, dan Computer Graphic Fundamental. Bagian berikutnya tentang TV Commercial & Visualization. Lalu ada bagian kuliah Texturing, Lighting & Effect. Baru kemudian memasuki Character Animation & Game Production. Di bagian ini mata kuliahnya: Animation Studio 3, Animation Business, Animation 3 (Maya), Game Production, dan Game Art & Design. Setelah selesai semua kuliah di atas, mahasiswa wajib bikin tugas akhir.

Untuk kuliah di sini, kamu harus lulus test lebih dulu. “Biasanya 80 persen calon mahasiswa lulus test. Yang ingin kita tahu, dia punya minat nggak? Kalau punya minat, bakatnya belakangan kita asah di sini,” kata Romy. Selain itu, kamu juga mesti menyiapkan biaya sekitar Rp 30 juta untuk kuliah 16 bulan di sini, plus biaya perangkat sendiri dan praktek lainnya. Bila kamu sudah jadi mahasiswa Digital Studio College, kamu bisa menggunakan fasilitas lab komputer, macintosh, dan perangkat multimedia lainnya. Dijamin, Digital Studio juga menggunakan software original.

Nah, kalau kamu tertarik menjadi profesional game developer melalui Digital Studio College, boleh deh berkunjung ke kampusnya di Gedung Syariah Mandiri Lantai 3, Jl. Sultan Hasanudin 57, Jakarta Selatan. Atau mau cari infonya dulu, bisa berkunjung ke website-nya di www.digitalstudiocollege.com


GAME PELENGKAP PENDIDIKAN







Para peneliti di Teachers Investigating Educational Multimedia, Inggris, menemukan, mereka yang main game komputer tertentu membikin otak pemainnya kian andal. Setelah meneliti lebih dari 700 sukarelawan usia 7 hingga 16 tahun, terbukti kemampuan logika, kemampuan berkomunikasi, dan kemampuan memecahkan persoalan meningkat. Rise tjuga membuktikan game mampu mengembangkan pola berpikir strategis anak. Di bawah ini sejumlah game yang digunakan sebagai bahan penelitian. (rmd)

Age Of Empires II
Age of Empires II: The Age of Kings adalah sebuah permainan komputer RTS, yang merupakan sekuel kedua dari seri Age of Empires. Game strategi ini diluncurkan 1999, dan jadi sebuah game laris. Di sini kamu mesti bikin perencananaan matang. Jadi nggak sekedar berperang tapi juga mesti mikir gimana caranya supaya korban yang jatuh sedikit dan nggak banyak menghabiskan biaya. Dan yang penting lagi, gimana caranya bernegosiasi supaya musuh menyerah tanpa harus perang. Bagus nih buat semua pemimpin dunia!

Bob the Builder
Pada 1994, teve kabel Nickelodeon menyiapkan acara pendidikan untuk anak-anak, dan dinamakan Nick Jr. Sepanjang tahun, blok acara ini menayangkan acara seperti Pinwheel, Blue's Clues, Dora the Explorer, dan Bob the Builder. Bob the Builder kemudian dibuat buku dan gamenya. Dibandingkan teve dan buku, game dianggap lebih interaktif.

Championship Manager
Karena penelitian ini dilakukan di Inggris, maka nggak lengkap rasanya kalo nggak ada sepak bolanya. Sebuah permainan simulasi sepakbola klasik, di mana kamu dididik belajar jadi manajer sepakbola di suatu klub.

F1 Championship Racing
Game balap F1 sudah nggak diragukan lagi unsur pendidikannya. Rasanya nggak ada orang tua yang nggak bangga kalau anak mereka bisa, minimal, ikut di ajang balap ini. Di game ini, kecepatan, ketepatan, dan ketrampilan bagus buat melatih reflek dan motorik anak.

Lego Alpha Team
Lego dalam bentuk mainan sudah nggak diragukan unsur edukatifnya. Nah, Lego dalam bentuk game jauh lebih menantang, karena dibutuhkan keahlian untuk memecahkan teka-teki. Tantangannya kamu harus memimpin Alpha Team dan menghentikan Mr. Ogel dari kehancuran dunia.







MEREKA YANG BERKARYA DI GAME DEVELOPER

Banyak yang masuk ke dunia game developer secara nggak sengaja. Selain industrinya dulu belum begitu berkembang, pendidikannya pun belum ada. Yang jelas mereka suka game, seperti Satya Hody (Menara Games), Chatarina Dian (Matahari Studios) dan Kukuh Wicaksono (Max Studio). Simak pengalaman mereka di dunia game developer. (vicman)

SATYA HODY
Cowok kelahiran 16 April 1977 ini adalah Co-Founder Menara Games dari Bandung. Udah dua game kasual yang dihasilkan Menara Games, yaitu Baloon Express dan Burger Rush. Sebelum ikutan di Menara Games, Satya Hody lebih dulu bekerja di Altermyth Studio selama tiga tahun. Tapi minatnya pada game developer muncul ketika dia bekerja di Matahari Studios, sebelum itu selama setahun.

Rabu, 12 Desember 2007

blog baru bikin

oi teman-teman , kenalin blog gue yang baru bikin kemarin hari . . . d{^_^}

hoHohO . . . . . . . .